Setiap tahun baru, mengenang Gus Dur

Pada menjelang pergantian tahun kali ini, bangsa Indonesia mengenang Gus Dur, mantan presiden yang tepat setahun wafat. Selain sebagai tokoh agama dan politis, pria bernama lengkap KH Abdurrahman Wahid ini dikenal sebagai tokoh pluralisme yang selalu mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan kebhinekaan Indonesia. Di masa pemerintahannyalah, komunitas Tionghoa di Indonesia kembali dapat merayakan Hari Imlek secara terbuka, termasuk dengan aneka pertunjukan kesenian dan tradisi budaya lainnya.

Salah satu wujud apresiasi terhadap bapak negara yang punya visi keberagaman ini, awal tahun ini sempat merebak kontroversi atas patung kontroversial “Mata Hati Gus Dur” karya Cipto Purnomo. Patung  garapan seniman Magelang ini menuai pro dan kontra karena berujud perawakan Budha. Bedanya, kepala Sang Budha diganti kepala Gus Dur lengkap dengan kaca mata tebalnya.  

Saat pembuatan patung ini, Cipto tidak bermaksud membandingkan Gus Dur dengan Budha. Menurut Cipto, patung Buddha yang berwajah Gus Dur tersebut lebih menggambarkan sosok Gus Dur yang pluralis, bisa diterima masyarakat dan gambaran kebaikan. “Kenapa kok Gus Dur sosoknya seperti Budha, karena menurut saya, Budha adalah penggambaran tentang kebaikan. Dan penggambaran Gus Dur yang pluralisme dan disayangi oleh banyak orang serta diterima oleh umat manapun,” kata dia kepada VIVAnews, Februari lalu.

Pekan lalu, saya dan keluarga mengunjungi Patung “Mata Hati Gus Dur” yang kini terawat rapi di Galeri Seni dan Unik Borobudur Indonesia (GUSBI), yang berada di kompleks Candi Borobudur. Patung berukuran 100 x 90 meter ini menjadi pertanda bagi kita, bahwa Indonesia pernah memiliki pemimpin bangsa yang arif, bijaksana, dan berjiwa besar untuk memperjuangkan kebersamaan di antara keperbedaan masyarakat.**(Reporter ESPIRA-Jojo Raharjo_Jakarta)