Membudayakan membaca lewat mall
Di Surabaya, telah hadir taman bacaan yang bertujuan menumbuhkan budaya membaca di sebuah mall bernama Library @Mall d:buku bibliopolis.
Menurut Direktur d:buku bibliopolis Diana AV Sasa, taman bacaan di mall ini mencoba mengembalikan tradisi kebudayaan kota Surabaya melalui aktivitas membaca sebagai gaya hidup.
“Perubahan kesadaran masyarakat perlu dilakukan secara sistematis, terstruktur dan massif, sehingga mampu menjadikan Surabaya dari sebuah kota yang hiruk-pikuk dengan melulu aktivitas shopping dan internet chatting di café, menjadi sebuah kota yang masyarakatnya memiliki kesadaran terhadap literasi,” ucap Sasa.
Dalam sejarahnya, kota Surabaya merupakan kota urban yang mempunyai jejak kuat pada aktivitas pergerakan yang dekat pada dunia buku serta membaca. Misalnya Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Komunitas Peneleh pada masa HOS Tjokroaminoto atau kelompok pergerakan NIAS merupakan tempat persemaian budaya baca yang sangat kuat.
Bagi Sasa, kehadiran 40 mall di Surabaya yang berpenduduk lebih dari 2, 5juta jiwa bukan suatu penghalang untuk menumbuhkan budaya membaca. Tingginya jumlah mall di Surabaya dan okupansi pengunjung yang juga terus meningkat ini adalah potensi besar untuk sosialisasi meningkatkan kesadaran membaca bagi para warga kota.
Nasehat bijak pun mengatakan bahwa buku merupakan jendela informasi dunia. **(Stringer ESPIRA-Sulaiman Parhusip_Surabaya)
- Login to post comments
- Printer-friendly version













